"Padet....."
"Maceeet...."
"Penuh Sesaak...."
"Polusi dimana-mana, susah nafas... mau jalan kaki jadi males.. Mana panas banget lagi.."
Begitulah kira-kira yang disampaikan oleh banyak warga yang kesehariannya menghabiskan waktu di Jakarta. Memang benar, Jakarta adalah sebuah kota megapolitan berstatus provinsi yang memiliki kepadatan penduduk (density) yang cukup ekstrim jika dibandingkan dengan kota-kota lain di seluruh Indonesia. Semenjak Era Hindia Belanda hingga 72 Tahun Indonesia merdeka, memang, Jakarta dijadikan sebagai pusatnya segala aktivitas, mulai dari aktivitas administratif pemerintahan pusat, hingga aktivitas bisnis dan perdagangan. Semuanya berpusat di lahan berukuran 740,30 km persegi bernama Jakarta.
Sebagai penyangga ekonomi makro negara, Jakarta menjadi sangat menarik untuk dijadikan tempat mengadu nasib sebagian besar masyarakat Indonesia, baik yang skilled maupun yang unskilled, baik yang professional hingga yang informal. Semua sektor memiliki Head-Quarter (baca: HQ) di Jakarta, mulai dari government, stated-owned enterprise, hingga private enterprise. Semua hal dipusatkan di sini, mulai dari pemerintah hingga swasta. Semuanya suku dan ras ada di Jakarta, mulai dari Batak, Dayak, Sasak, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Minang, dan lain sebagainya. Tumplek Bleg menjadi satu dalam satu kota berukuran relatif kecil bernama Jakarta.
Sebagai penyangga ekonomi makro negara, Jakarta menjadi sangat menarik untuk dijadikan tempat mengadu nasib sebagian besar masyarakat Indonesia, baik yang skilled maupun yang unskilled, baik yang professional hingga yang informal. Semua sektor memiliki Head-Quarter (baca: HQ) di Jakarta, mulai dari government, stated-owned enterprise, hingga private enterprise. Semua hal dipusatkan di sini, mulai dari pemerintah hingga swasta. Semuanya suku dan ras ada di Jakarta, mulai dari Batak, Dayak, Sasak, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Minang, dan lain sebagainya. Tumplek Bleg menjadi satu dalam satu kota berukuran relatif kecil bernama Jakarta.
Statistik Kependudukan Provinsi DKI Jakarta
Sebagai sebuah ibukota, kita hanya bisa berbangga karena perekonomiannya semakin bertumbuh dari masa ke masa. Statistik ekonomi sangat banyak dibentangkan dimana-mana, dan masuk ke dalam berita-berita skala nasional bahkan internasional. Lain halnya dengan statistik kependudukan provinsi DKI Jakarta, masih sangat jarang sekali dipaparkan dan dianalisa.
Badan Pusat Statistika adalah sebuah lembaga negara yang menampilkan data-data statistik negara dalam bentuk kuantitatif. Sebuah data kependudukan yang ditampilkan di dalam websitenya (URL http://www.bps.go.id) salah satunya adalah jumlah penduduk Indonesia berdasarkan pada Sensus Penduduk dengan detil sebagai berikut:
![]() |
| Tabel 1 - Data Penduduk Republik Indonesia (per Provinsi) Sesuai Sensus Penduduk (Source https://www.bps.go.id/) |
Sebagai informasi, data tersebut belum termasuk Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang merupakan provinsi baru dan masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur di sensus penduduk terakhir tahun 2010. Dalam tabel tersebut, telah terhighlight warna merah untuk provinsi DKI Jakarta. Data tersebut menunjukkan bahwa penduduk DKI Jakarta mengalami pertumbuhan yang positif dari masa ke masa. Berikut adalah grafik yang menggambarkan pertumbuhan tersebut:
![]() |
| Grafik 1 - Penduduk DKI Jakarta dari Tahun ke Tahun (Source http://www.bps.go.id) |
Ketika dilakukan analisa dengan regression analysis dengan pendekatan linear, dapat dilihat bahwa penduduk DKI Jakarta akan mencapai 12 juta penduduk di tahun 2030. Tidak cukup sampai di situ, analisa terhadap density juga penting dikarenakan pertumbuhan penduduk harus dibandingkan dengan seberapa luas lahan yang ditinggali oleh penduduk tersebut. Dengan demikian, density Indonesia per Provinsi dapat dilihat dalam Tabel 2 di bawah:
![]() |
| Tabel 2 - Density Republik Indonesia Per Provinsi (Satuan jiwa/km persegi) (Source Pengolahan Data dari https://www.bps.go.id/) |
Density atau dalam konteks ilmu Geografi disebut Population Density (kepadatan penduduk) adalah suatu cara untuk mengukur tingkat kepadatan penduduk berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayahnya. Secara matematis, Population Density adalah banyaknya penduduk per kilometer persegi (Source Cakrawala Geografi 2, Munawir, Spd., dkk., 2006). Semakin tinggi angka Population Density, maka semakin padat wilayah tersebut karena penuh sesak dengan penduduk.
Dari situ, dapat kita lihat seberapa padat DKI Jakarta di tahun 2010 dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di seluruh Indonesia dalam grafik 2 sebagai berikut:
![]() |
| Grafik 2 - Density Tiap Provinsi per Tahun 2010 (Source Pengolahan Data dari https://www.bps.go.id/) |
Ternyata, Density DKI Jakarta termasuk yang paling tinggi (bahkan cenderung ekstrim tinggi) dibandingkan dengan provinsi lain di seluruh Indonesia. Dari data tahun 2010 tersebut, dapat kita lihat bahwa DKI Jakarta memiliki angka density mencapai 12.978 jiwa/km persegi. Itu artinya, dalam lahan seluas 1 km persegi di Jakarta, dihuni oleh hampir 13 ribu jiwa penduduk. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di pulau jawa (Density Jawa Barat 1.222 jiwa/km persegi, Density Banten 1.160 jiwa/km persegi, Density DI Yogyakarta 1.085 jiwa/km persegi). Pertumbuhan Density DKI Jakarta dapat dilihat dalam Grafik 3 sebagai berikut:
![]() |
| Grafik 3 - Density DKI Jakarta dari Tahun ke Tahun (Source Pengolahan Data dari https://www.bps.go.id/) |
Dari grafik 3 di atas, dapat dilihat bahwa Density DKI Jakarta mengalami pertumbuhan 110% atau kira-kira 2 kali lipat dalam kurun waktu 40 tahun (Tahun 1971-2010). Setelah dilakukan Regression Analysis dengan pendekatan linear, didapatkan bahwa Density DKI Jakarta akan mencapai angka 16.000 jiwa/km persegi di tahun 2030 jika tidak dilakukan kerja nyata bersama-sama untuk menanggulangi pertumbuhan tersebut. Jika pertumbuhan Density terus terjadi, maka kepadatan lalu lintas diiringi dengan kemacetan parah (very massive traffic jam) akan menjadi ancaman serius yang akan dihadapi oleh DKI Jakarta. Oleh karena itu, kita semua harus BEKERJA BERSAMA #UbahJakarta untuk mengantisipasi hal tersebut.
Kemacetan Sebagai Salah Satu Dampak Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta
Sebagai provinsi berstatus Daerah Khusus Ibukota, Jakarta memang menjadi magnet yang luar biasa menarik bagi semua orang Indonesia. Perputaran keuangan negara berpusat di sana, sehingga menarik banyak orang untuk pergi ke Jakarta untuk sekedar mencari setetes pundi-pundi rupiah. Sesuai dengan ilustrasi pada Grafik 3 sebelumnya, Density DKI Jakarta yang terus menerus tumbuh positif adalah salah satu dampaknya, sehingga mengakibatkan tumbuh pula-lah kepadatan lalu lintas di DKI Jakarta. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan pertumbuhan luas jalan (bukan dibandingkan dengan panjang jalan, tetapi luas jalan) mengakibatkan terjadinya kemacetan yang cenderung massif dimana-mana, terutama saat jam-jam sibuk (peak hour).
![]() |
| Gambar 1 - Kepadatan Lalu Lintas Sebagai Dampak Dari Bertumbuhnya Density DKI Jakarta (Source Google Image) |
Kepadatan lalu lintas tersebut salah satunya adalah disebabkan karena adanya bottleneck yang terdapat di beberapa titik di Jakarta. Bottleneck tersebut harus dilalui oleh sekian banyak kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor, sehingga mengakibatkan antrian yang mengekor hingga berkilo-kilo meter panjangnya. Lautan kendaraan bermotor tersebut mengantri bahkan serobot kanan-serobot kiri demi memperebutkan jalan yang ujungnya kian menyempit. Dengan pertumbuhan Density DKI Jakarta sebagaimana ilustrasi pada Grafik 3 sebelumnya, sangat beresiko terjadi deadlock jika tidak diantisipasi dengan baik ke depannya.
![]() |
| Gambar 2 - Bottleneck di Jakarta Sebagai Salah Simpul Kepadatan Lalu Lintas (Source Google Image) |
Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam dengan fenomena kemacetan yang terjadi ini. Beberapa langkah antisipatif telah coba dicanangkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi kemacetan tersebut, seperti: Peraturan 3 in 1 (justru malah menimbulkan adanya fenomena joki 3 in 1), Peraturan Nomor Kendaraan Ganjil-Genap (sedikit merepotkan pengguna mobil di area ganjil-genap untuk berkendara, karena harus menghindari jalur tersebut, bukannya malah mengurangi jumlah mobil, tapi hanya shifting ke jalur lain). Selain itu, beberapa transportasi umum pun sudah diciptakan oleh Pemerintah untuk mengantisipasi hal ini, seperti: KRL Commuter Line Jabodetabek, Transjakarta, dsb (mengenai hal ini,akan dibahas kemudian). Masing-masing solusi tersebut ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pertanyaannya adalah: apakah solusi-solusi tersebut telah menjadi solusi jangka panjang? Sepertinya, kita harus belajar dari negara-negara sebelah yang telah berhasil membangun transportasi umum di ibukotanya.
Studi Kasus Transportasi Publik di Negara Tetangga (Case Study di Kuala Lumpur, Malaysia)
Kuala Lumpur, sebagai ibukota perdagangan Malaysia, telah menjadi kota dengan infrastruktur yang sangat maju. Malaysia patut berbangga karena sarana transportasi umum mereka sangat lengkap. Penduduknya punya banyak sekali opsi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Beberapa transportasi umum yang dapat digunakan ketika di Malaysia adalah RapidKL Bus, RapidKL Monorail, LRT Kelana Jaya, KTM, hingga KLIA Express. Berikut reviewnya.
A. RapidKL Bus
Bis RapidKL bisa dijumpai dimana-mana, dengan rute yang sangat lengkap, mengitari seluruh penjuru Kuala Lumpur. Dengan bis RapidKL ini, penduduk bisa senantiasa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan sangat mudah dan juga murah.
| Gambar 3 - Bis RapidKL (Source http://myrapid.com.my) |
B. RapidKL Monorail
Monorail memiliki estetika yang indah jika dibandingkan dengan moda transportasi yang lain. Rutenya membentang dari KL Central menuju Titiwangsa, berputar melewati beberapa titik padat di Kuala Lumpur.
| Gambar 4 - Monorail Rapid KL Sebagai Salah Satu Moda Transportasi Publik di Kuala Lumpur, Malaysia (Source http://www.thestar.com.my/) |
C. LRT Kelana Jaya
LRT ini driver-less, dikendalikan secara otomatis dan computerized. Transportasi ini menjadi favorit masyarakat yang ingin commuting dengan jarak sedang di KL dan area suburbannya, Selangor.
![]() |
| Gambar 5 - LRT Kelana Jaya (Source Wikipedia) |
D. KTM (Keretaapi Tanah Melayu)
Keretaapi Tanah Melayu, atau lebih familiar disebut KTM, adalah KRL-nya Malaysia. Jarak tempuhnya cukup jauh, biasa dipakai masyarakat sub-urban Kuala Lumpur untuk pulang-pergi bekerja ke Kuala Lumpur.
| Gambar 6 - Keteraapi Tanah Melayu (KTM) (Source http://www.thestar.com.my) |
E. KLIA Express
KLIA Express adalah Kereta bertenaga listrik yang menghubungkan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ke KL Central yang berjarak kurang lebih 55 km hanya dengan waktu tempuh 28 menit saja. KLIA Express ini menjadi moda transportasi andalan para turis asing atau para eksekutif yang melakukan perjalanan bisnis ke Kuala Lumpur karena sangat efektif dan efisien untuk pergi ke jantung kota Kuala Lumpur dari bandara KLIA, atau sebaliknya.
| Gambar 7 - KLIA Express, Kereta Cepat penghubung KL International Airport dan Pusat Kota Kuala Lumpur (Source http://cmcf.org.my/category/transportation/) |
Dari semua contoh melalui studi kasus Kuala Lumpur Malaysia tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen lalu lintas dilaksanakan dengan melakukan manajemen transportasi umum, sehingga setiap penduduk sub-urban yang hendak commuting ke Kuala Lumpur dapat dilaksanakan hanya cukup dengan menggunakan transportasi umum. Begitu pula untuk berpindah dari satu titik ke titik yang lain di dalam kota Kuala Lumpur, cukup hanya dengan menggunakan transportasi umum. Semuanya nyaman, rapi, cepat, efektif dan efisien, serta yang paling penting: terintegrasi dengan baik.
Solusi Eksisting Mengatasi Kemacetan di DKI Jakarta
Kembali lagi ke Jakarta. Sebagaimana disebutkan dalam Grafik 3 sebelumnya, tantangan besar Jakarta adalah pertumbuhan Density nya. Sebenarnya sudah ada moda transportasi umum untuk mensolusikan permasalahan Density tersebut, sebagai contoh adalah sebagai berikut:
A. KRL Commuter Line Jabodetabek
KRL Commuter Line Jabodetabek menjadi transportasi andalan para penduduk Sub-Urban DKI Jakarta untuk pergi ke Jakarta setiap harinya. Penduduk kota-kota penyangga seperti Tangerang, Tangsel, Bogor-Depok, dan Bekasi, adalah market utama KRL Commuter Line Jabodetabek di kala jam-jam sibuk yakni berangkat dan pulang kerja (peak hour). Tak tanggung-tanggung, jutaan warga mengandalkan moda transportasi ini setiap harinya. Permasalahan muncul ketika kapasitas Commuter Line ini tidak sebanding dengan demand dari Commuter Line itu sendiri, sehingga mengakibatkan penuh sesaknya Commuter Line tersebut. Coba bayangkan apabila Density DKI Jakarta tumbuh secara linier seperti yang diilustrasikan pada Grafik 3 sebelumnya. Apa yang terjadi apabila hal tersebut tidak diantisipasi mulai dari sekarang?
| Gambar 8 - KRL Commuterline Jabodetabek sebagai Salah Satu Solusi Eksisting untuk Commuting di DKI Jakarta (Source Tribunnews.com) |
B. Busway - Transjakarta
Transjakarta adalah transportasi umum berupa bus yang dikonsep memiliki jalur sendiri. Berkonsep jalur steril, diharapkan Transjakarta bisa menjadi salah satu solusi praktis untuk membantu penduduk untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara point-to-point. Namun, keberadaan Transjakarta itu sendiri menimbulkan permasalahan fundamental baru: jalan eksisting dipangkas khusus untuk Transjakarta sehingga lebarnya menyempit, sedangkan justru sebaliknya, dibutuhkan pertumbuhan lebar jalan untuk melakukan manajemen debit jalan (perhitungan debit bukanlah ditekankan pada panjang jalan, namun lebar jalan). Kembali lagi ke ilustrasi Grafik 3 tentang pertumbuhan angka Density DKI Jakarta dan juga Gambar 2 tentang titik bottleneck (penyempitan) sebagai salah satu akar kemacetan massif di DKI Jakarta. Pertanyaan sebelumnya pun berulang, apakah yang akan terjadi jika kita tidak mengantisipasi pertumbuhan Density DKI Jakarta ini?
![]() |
| Gambar 9 - Bus Transjakarta Sebagai Salah Satu Solusi untuk Commuting di DKI Jakarta (Source http://merdeka.com/) |
MRT Jakarta Sebagai Solusi Baru Mengatasi Kemacetan di Jakarta
Sesuai beberapa analisa statistik, studi kasus, serta lesson learnt dalam penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan praktis bahwa Jakarta membutuhkan moda transportasi yang modern, canggih, tidak mengganggu debit jalan, efektif dan efisien, serta well-integrated. Modern dan canggih dalam artian otomatis (atau semi otomatis) serta menggunakan teknologi terkini, tidak mengganggu debit jalan karena menggunakan track khusus yang tidak memangkas lebar jalan, efektif dan efisien karena presisi waktu departure dan arrival-nya, serta well-integrated karena terintegrasi dengan moda transportasi alternatif yang lain. Dengan semua hal tersebut, dibangunlah MRT Jakarta yang nantinya akan hadir memberikan solusi alternatif untuk Jakarta kita tercinta.
MRT Jakarta tidak akan mengganggu jalan karena sebagian track-nya terdapat di dalam tanah. Proses tunneling-nya menggunakan bor Antareja dan Mustika Bumi untuk membuat konstruksi lubang bawah tanah di sepanjang Patung Pemuda hingga Bundaran HI. Di sepanjang tunnel yang tercipta tersebut nantinya akan dibangun track MRT Jakarta ke depannya.
![]() |
| Gambar 10 - Prototype Jakarta MRT (Source https://jakartamrt.co.id/) |
![]() |
| Gambar 11 - Tunnel Dalam Tanah Yang Nantinya akan Dilalui MRT Jakarta (Source https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3190580/adu-cepat-antareja-dan-mustika-bumi-mrt-jakarta-terjauh-ngebor-928-meter) |
Hingga kini, pengerjaannya telah mencapai 76% per 15 Agustus 2017 (Source URL https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3600008/dibangun-sejak-2013-fisik-mrt-jakarta-sudah-capai-76). Pembangunan MRT Jakarta tersebut terus dikebut guna mengejar target operasi pada Maret 2019. Koridor yang kini dikebut adalah Jalur Utara-Selatan Fase 1 yang membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.
![]() |
| Gambar 12 - Peta Rute MRT Jakarta Fase 1 (Source https://jakartamrt.co.id/konektivitas/peta-transportasi-publik/) |
Diharapkan, dengan adanya progress pembangunan yang signifikan oleh MRT Jakarta ini, wajah Jakarta ke depannya akan tetap optimis meski ditekan oleh ancaman pertumbuhan Density DKI Jakarta yang kian merangkak naik. Pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta tidaklah mudah, karena tantangan demi tantangan bermunculan dari segala lini. Oleh karena itu, dibutuhkan dorongan dan kerjasama dari semua lapisan masyarakat agar pembangunan yang berjalan dapat terus berlanjut dan tidak berhenti di tengah jalan. Jadi, mari kita bekerja bersama, #UbahJakarta !
Note
Penulis adalah seorang profesional muda yang kini bekerja di Kota Jakarta. Penulis semasa hidupnya pernah mengenyam pendidikan Master of Business Administration di Universiti Kebangsaan Malaysia - Graduate School of Business (UKM-GSB).
Referensi
http://www.guntara.com/2014/05/pengertian-kepadatan-penduduk.htm
Munawir, Spd., dkk., 2006, Cakrawala Geografi 2, Jakarta: Penerbit Yudhistira
Munawir, Spd., dkk., 2006, Cakrawala Geografi 2, Jakarta: Penerbit Yudhistira
Badan Pusat Statistika URL: http://www.bps.go.id
MRT Jakarta URL: https://jakartamrt.co.id/
Sign up here with your email













Conversion Conversion Emoticon Emoticon